FITNESS & HEALTH

Apakah Seorang Terapis Bisa Terkena Depresi? 

Sunnaholomi Halakrispen
Minggu 12 Januari 2020 / 11:34

Jakarta: Depresi dapat memengaruhi setiap aspek keberadaan kamu, baik tubuh, pikiran, emosi, hingga roh, sehingga kamu merasa sulit untuk melewatkannya. Bahayanya, tidak selalu jelas juga ketika kamu sedang mengalami depresi.

Menurut Seth J. Gillihan, PhD seorang Psikolog Klinis dilansir dari WebMD, siapapun bisa terkena depresi. Bahkan ahlinya, sang terapis, juga bisa terserang gangguan jiwa ini, baik dalam skala kecil hingga depresi berat.

Ia mengaku beberapa tahun yang lalu berjuang melawan penyakit yang berkepanjangan dan misterius, dengan gejala-gejala seperti kurang tidur, kabut otak, dan kelelahan yang luar biasa. 

Kunjungan dokter sering kali tidak menghasilkan jawaban atau kelegaan, dan Gillihan terpaksa mengurangi jam kerjanya secara drastis.

Gillihan menyatakan bahwa dirinya memiliki banyak gejala depresi, seperti sering menangis dan ketidakmampuan untuk tetap tertarik pada apa pun yang dibaca. Tetapi, dia mengaitkannya dengan penyakit fisik. 

Kemudian, mulai dirasakannya putus asa dan bertanya-tanya apakah hidup ini layak dijalani. Saat itu, akhirnya ia menyadari bahwa tengah tenggelam dalam depresi besar.

embed

(Seorang psikolog juga bisa merasakan depresi dari ringan hingga berat. Gejalanya bisa mulai dari yang kamu tak sadar rasakan hingga ke fisik. Foto: Pexels.com)

Seorang psikolog juga bisa depresi

"Jika seorang psikolog klinis seperti saya dapat melewatkan semua tanda, saya tahu ada banyak orang lain yang depresinya tidak dikenali. Depresi sering kali merupakan kondisi yang berbahaya, berkembang perlahan dan bertahap," tuturnya.

Kondisi tersebut seperti katak di dalam panci berisi air yang dipanaskan secara perlahan. Perkembangan suhu bertahap menyembunyikan fakta bahwa katak sedang dimasak. Analogi sederhananya seperti itu.

Terlebih lagi, semua gejala dapat dikaitkan dengan sesuatu yang lain, yakni menangisi kesedihan atau kehilangan, susah tidur dengan stres, energi rendah untuk penyakit fisik seperti dalam situasi tersebut. 

Setiap gejala juga cenderung muncul dengan sendirinya, alih-alih sebagai bagian dari sekumpulan gejala. Sehingga, kamu bahkan cenderung tahu bahwa kamu mengalami sindrom yang disebut depresi.

embed

(Ajak bicara sahabat kamu saat sedang merasa sedih atau terbeban mental. Kamu bisa mendapatkan sudut pandang orang lain. Atau temui konsuler psikologi untuk membantu kamu. Foto: Pexels.com)

Faktor tambahan dalam depresi

Ada beberapa faktor tambahan yang memudahkan depresi untuk menyelinap pada diri kamu. Stigmanya, jika kamu memiliki keyakinan negatif tentang orang yang mengalami depresi, kamu mungkin secara tidak sadar tidak ingin mengenali kondisi ketika itu muncul dalam hidup kamu sendiri.

Setiap gejala depresi, seperti kesedihan atau kelelahan, dapat dialami dalam bentuk yang lebih ringan ketika kita tidak mengalami depresi. Kamu mungkin tidak membedakan antara gejala depresi dan hal serupa yang pernah kamu rasakan di masa lalu.

Gejala kamu mungkin berbeda dari apa yang kamu bayangkan sebagai depresi. Misalnya, mungkin kamu mengira depresi berarti menangis sepanjang waktu, sedangkan kamu merasa lebih mati rasa daripada sedih. 

Mungkin kamu tidak tahu bahwa kehilangan minat pada seks bisa menjadi tanda depresi. Ada juga pemicu lain yang tidak dikenal, seperti ketika kamu mengalami kerugian yang memengaruhi suasana hati tanpa kamu sadari. 

Contohnya, ketika seorang teman pindah ke luar negeri, kamu tidak menyadari betapa kamu merindukan pembicaraan saat pergi bersamanya. Kehilangan koneksi dan dukungan yang konsisten mungkin merupakan salah satu faktor yang menyebabkan depresi.

Gejala depresi mungkin muncul lama setelah peristiwa besar dalam kehidupan. Berbulan-bulan setelah kehilangan orang tua misalnya, ketika masa-masa belasungkawa berhenti dan kenyataan hidup tanpa ibu atau ayah tenggelam. 

Akan lebih sulit mengenali depresi ketika faktor-faktor yang menyebabkannya lebih jauh ke hulu. Namun, bersyukurlah bahwa biasanya bisa disembuhkan. Jika kamu bertanya-tanya apakah kamu mungkin mengalami depresi, jadwalkan untuk berkonsultasi dengan dokter atau ahli kesehatan mental. 


(tin)

MOST SEARCH