FAMILY

Dampak Social Distancing pada Anak Introvert dan Pemalu

Raka Lestari
Selasa 04 Agustus 2020 / 14:51

Jakarta: Anak-anak yang memiliki sifat pemalu atau introvert terkadang mungkin merasa tertekan ketika harus melakukan interaksi dengan orang lain.

Dan, pada masa pandemi covid-19 seperti sekarang di mana kita semua harus melakukan social distancing dan tidak melakukan interaksi dengan orang lain, apakah hal tersebut membuat mereka bahagia? Atau justru sebaliknya?

Seorang psikoterapis, Dr Annette Nunez menjelaskan bahwa protokol untuk melakukan social distancing dapat memiliki dampak lain pada anak-anak yang memiliki sifat pemalu, di mana mereka mungkin akan lebih merasa lebih tenang. Hal ini karena tidak ada tekanan bagi mereka untuk berada di sekitar orang lain yang mungkin membuat mereka tidak nyaman.

Meskipun demikian, hal ini berpotensi memiliki masalah. “Anak-anak bersosialisasi melalui bermain dengan teman sebayanya. Ada banyak pemecahan masalah, kreativitas dan mengatur hubungan sosial ketika mereka bermain,” kata Dr Nunez.

“Anak yang pemalu dan introvert kemungkinan bisa kehilangan momen penting ini dan membuat hal ini menjadi lebih sulit bagi mereka ketika mereka sudah kembali ke sekolah seperti masa-masa normal,” lanjut Dr Nunez.

embed

(Merasa cemas dan nyaman karena isolasi juga dapat menyebabkan penurunan kinerja akademik dan koneksi sosial. Foto: Ilustrasi. Dok. Freepik.com)

Dr Hillary Goldsher, seorang psikolog klinis, menambahkan bahwa meskipun semua anak akan mengalami efek dari social distancing ini tetapi efek yang dirasakan pada anak pemalu dan introvert mungkin akan lebih dirasakan ketika semua ini berakhir daripada saat sekarang.

“Kembali pada mode interaksi normal mungkin dapat memicu kecemasan dan penolakan pada anak-anak yang merasa lebih nyaman pada masa-masa isolasi. Perasaan seperti itu juga dapat menyebabkan penurunan kinerja akademik dan koneksi sosial,” kata Goldsher.

Namun untungnya, Goldsher menyebutkan ada beberapa strategi yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk membantu anak melewati masa-masa transisi tersebut.

Kesulitan apapun yang dialami oleh anak sebisa mungkin ditangani secara langsung oleh orang tua dan jika memang dibutuhkan, bisa menggunakan bantuan seorang profesional kesehatan mental. 

“Anak-anak sangatlah dinamis. Dan dalam banyak kasus, dengan sedikit bimbingan, dorongan, dan cinta dari orang tua, mereka bisa mendapatkan kembali kemampuan sosial mereka serta toleransi terhadap sesama tersebut,” jelas Goldsher.


(yyy)

MOST SEARCH