FAMILY

Ini Alasannya Anak Takut dengan Suara Keras

Yatin Suleha
Senin 07 September 2020 / 17:05

Jakarta: Ketika mendengar suara helikopter yang terbang rendah biasanya anak-anak yang melihatnya segera melambaikan tangan sambil berteriak kegirangan.
 
Namun, tidak demikian dengan sebut saja Sultan (4 tahun). Ia malah takut, lari dan bersembunyi. Dan, Sultan jadi terkenal sebagai anak yang selalu takut setiap mendengar bunyi keras. 
 
Walau setiap orang wajar memiliki rasa takut, namun jika setiap kali mendengar suara keras takut, bukankah ini sesuatu yang tidak wajar? Dan bagaimana cara mengatasinya?

Menurut Psikolog anak dan keluarga Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si., Psikolog, takut pada anak prasekolah adalah emosi negatif yang wajar dialami, bahkan termasuk emosi yang dibawa sejak lahir.
 
Menurutnya, selain suara helikopter, beberapa suara seperti petir, bentakan, atau suara binatang merupakan objek yang wajar ditakuti oleh anak-anak prasekolah.

Menurut psikolog yang akrab disapa Nina ini, digali dari buku “Abnormal Child Psychology 3rd ed” karangan Eric J. Mash & David A Wolfe (2005) ada beberapa objek ketakutan yang wajar pada anak prasekolah, diantaranya:

  •   0-6 bulan: kehilangan orang yang berada di dekatnya, suara keras
  • 7-12 bulan: orang asing, objek yang hadir secara tiba-tiba/tak diduga/sangat besar
  • 1 tahun: terpisah dari orang tua, luka, toilet, orang asing
  • 2 tahun: suara keras, binatang, ruang gelap, terpisah dari orang tua, benda yang besar, mesin-mesin, perubahan dalam lingkungannya
  • 3 tahun: topeng, kegelapan, binatang, terpisah dari orang tua
  • 4 tahun: terpisah dari orang tua, binatang, gelap, suara keras/suara aneh
  • 5 tahun: binatang, orang yang terlihat mengerikan, terpisah dr ortu, luka di tubuh

embed

(Selain suara helikopter, beberapa suara seperti petir, bentakan, atau suara binatang merupakan objek yang wajar ditakuti oleh anak-anak prasekolah. Foto: Ilustrasi. Dok. Freepik.com)

Lalu, bagaimana cara mengatasinya?

Nina mengatakan ada yang bisa hilang dengan sendirinya, misalnya karena belakangan anak tahu bahwa hal itu hanya berlangsung sementara dan setelahnya wajar saja. Adapula yang perlu bantuan orang tua. 

Menurutnya, ada beberapa cara yang bisa dilakukan, seperti: 

- Perhatikan indikator ketakutan yang ditunjukkan anak: nangis, lari mendekat ke orang tua, wajah tegang, ada anak yang jadi gemetar atau justru kaku

- Usahakan peluk anak untuk tenangkan

- Tunjukkan bahwa setelah suara keras terjadi (misalnya suara geledek atau petir) kita tetap bisa melakukan hal-hal yang sedang kita lakukan sebelumnya

- Jelaskan sumber suara keras dengan bahasa anak. Contoh penjelasan tentang petir, kita bisa cerita bahwa ada awan yang saling bertabrakan karena mereka ramai-ramai berjalan-jalan tapi tertiup angin. Kita bisa simulasi juga misalnya ibu, bapak dan anak menjadi awan, lalu pura-pura tertiup angin jadi bertabrakan. Jelaskan bahwa saat tabrakan itulah suara petir timbul. Itu hanya penjelasan sederhana sesuai tingkat pemahaman anak

embed

(Kita bisa ‘labeling’ emosinya sebagai takut, misalnya kita peluk anak dan kemudian bilang, kamu takut ya. Foto: Ilustrasi. Dok. Freepik.com)

- Bernyanyi lagu-lagu riang, agar suasananya jadi lebih menyenangkan

- Kita bisa ‘labeling’ emosinya sebagai takut, misalnya kita peluk anak dan kemudian bilang, kamu takut ya. Tapi setelah menenangkan anak, kita mesti menetralkan lagi, “Setelah mama peluk, kamu pasti jadi lebih berani."

- Ketika anak sudah mulai menunjukkan keberanian, misalnya setelah dia tutup kuping karena suara keras lalu dia sudah bisa senyum sambil lihat kita, kita bisa berikan pujian, “Tuh, lihat, kamu sudah lebih berani kan.”


(yyy)

MOST SEARCH