EXTERIOR

5 Fakta Museum Joang 45 yang Perlu Diketahui

Sunnaholomi Halakrispen
Jumat 14 Agustus 2020 / 19:29

Jakarta: Gedung Museum Joang 45 yang berlokasi di Jalan Menteng Nomor 31 Jakarta merupakan saksi bisu sejarah Indonesia dalam menggapai kemerdekaan atas para penjajah. Setidaknya, ada lima fakta tentang museum ini, yaitu:

1. Hotel Termegah di Batavia

Mulanya adalah sebuah hotel termegah di Batavia, Hotel Schomper. Kemegahan hotel yang namanya tampak dari sejumlah pilar yang berdiri kokoh di serambi depan yang terbuat dari batu marmer.

Ruang tamunya sangat luas dan terletak di bagian tengah bangunan. Kamar-kamar dibangun di kiri dan kanan bangunan serambi utama, sehingga membentuk dua sayap dengan masing-masing lima kamar di sayap kiri dan delapan kamar besar di sayap kanan.

Tak sembarang orang bisa menginap di hotel yang mulai dioperasikan tahun 1938 tersebut. L. C. Schomper, perempuan Belanda, membangun hotel megah tersebut khusus untuk para pedagang asing dan para pejabat tinggi Belanda yang singgah di Batavia.

Namun, mimpi Schomper mendulang untung, kandas. Lantaran, hotel megah yang dibangunnya dengan dana tak sedikit itu keburu dirampas pasukan Jepang di tahun 1942. 

2. Dijadikan Asrama

Pada Juli 1942, Hotel Schomper dikuasai oleh Sendenbu (barisan propaganda Jepang). Lalu, Hotel Schomper diserahkan kepada para pemuda Indonesia. Kemudian, Adam Malik, Sukarni, Chaerul Saleh, dan A. M. Hanafi, menjadikan Gedung Menteng 31 sebagai Asrama Angkatan Baroe Indonesia (ABI) dan menjadikannya pusat kegiatan gerak cepat komando pemuda antara pusat dan daerah.

Asrama ini berfungsi sebagai tempat pendidikan politik kebangsaan. Sebagai pengajarnya, dipilih beberapa tokoh, seperti Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Mohammd Yamin, Soenario, Ahmad Soebarjo, MZ Djambek, Dayoh, Dr. Muwardi, Sanusi Pane, Ki Hajar Dewantara, dan Amir Syarifudin. 

Selain tokoh Pergerakan Nasional sebagai tenaga pengajar, pihak Jepang juga ikut terlibat menjadi tenaga pengajar (Prof. Nakatani, H. Shimizu, dan Prof. Bekki).

3. Kantor Kementerian

Pada masa Indonesia Berdaulat, Gedung Menteng 31 ini pernah mengalami beberapa perubahan fungsi. Setelah lima tahun ditinggal oleh para Pemuda, gedung ini dijadikan asrama para pekerja wanita. Namun, pada 1957, ketika A. M. Hanafi menjabat Menteri Pengerahan Tenaga Rakyat (PETERA), Gedung Menteng 31 dijadikan Kantor Kementerian Pengerahan Tenaga Rakyat hingga kementerian itu dibubarkan pada 1960.

Gedung Menteng 31 lantas dijadikan Kantor Dewan Harian Nasional Angkatan '45 yang diketuai oleh Chaerul Saleh (1960-1965). Setelah itu, Menteng 31 dijadikan Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar) yang dipimpin oleh Dr. Sulastomo. Pada 19 Agustus 1974, Gedung Menteng 31 diresmikan Presiden Soeharto sebagai Museum Joang '45 hingga saat ini.

4. Tempat Merancang Aksi Penculikan Soekarno-Hatta

Gedung Menteng 31 merupakan tempat merancang berbagai aksi dalam merebut dan mempertahankan kemendekaan Indonesia. Di sinilah disusun rencana membawa Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok untuk melakukan Proklamasi Kemerdekaan.

Setelah itu, berbagai aksi juga dirancang di gedung ini melalui Komite van Aksi yang didirikan pasa 18 Agustus 1945 oleh 11 tokoh. Diantaranya, Sukarni, Chaerul Saleh, A. M. Hanafi, Wikana, Adam Malik, Pandu Kartawiguna, Armunanto, Maruto Nitimihardjo Kusnaeni, dan Djohar Nur.

Setidaknya, ada empat aksi yang dilakukan komite ini. Pertama, mendesak agar dibentuknya Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Kedua, PET dan Heiho dijadikan Tentara Rakyat Indonesia (TRI). 

Lalu, pembentukan beberapa organisasi pemuda, seperti Barisan Pemuda, Barisan Buruh, dan Barisan Tani. Barisan Pemuda kemudian menjelma menjadi Angkatan Pemuda Indonesia (API). Selain itu, komite ini juga memprakarsai Rapat Raksasa di Lapangan IKADA yang bertujuan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Bangsa Indonesia telah merdeka dan lepas dari penagruh penjajahan.

5. Tokoh-tokoh Menteng 31

Gedung Menteng 31 merupakan tempat para kaum muda menjalankan aksi mereka dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Para tokoh muda itu ialah Sukarni, Chaerul Saleh, A. M. Hanafi, Wikana, Adam Malik, Pandu Kartawiguna, Armunanto, Maruto Nitimihardjo, Kusnaeni, Djohar Nur, Ismail Wijaya, Burhanuddin Mohammad Diah, dan lain-lain.

Diantara para pemuda tersebut, empat tokoh muda paling menonjol dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Mereka adalah Adam Malik, Sukarni, Chaerul Saleh, dan A. M. Hanafi.

Gedung yang telah beroperasi sejak tahun 1938 ini memiliki perjalanan panjang dan perubahan fungsi berkali-kali. Kini, kamu bisa berkunjung ke tempat ini untuk menambah pengetahuan sejarah maupun untuk rekreasi bersama keluarga dan teman.


(yyy)

RELATED ARTICLE

MOST SEARCH